top of page

Penyebab Toxic Productivity yang Kerap Melanda Karyawan

  • Writer: Jessica Dima
    Jessica Dima
  • Aug 11, 2021
  • 2 min read

Penyebab toxic productivity di kalangan para karyawan sebenarnya beragam. Sayang, tidak banyak orang juga sadar dirinya tengah berada pada kondisi tersebut. Sekilas merasa produktif, padahal kesibukannya tersebut pelan-pelan menggangu kesehetan mental.


Toxic productivity sendiri berarti keadaan yang terlalu obesesif untuk mengembangkan diri sampai tidak bisa membagi waktu. Bahkan, tidak jarang seorang karyawan mulai sering menyalahkan diri sendiri. Berikut beberapa penyebab toxic productivity yang rentan dialami siapa saja.


Tingginya Ekspetasi Perusahaan

sumber: Freepik

Karyawan yang punya ambisi tinggi biasanya berusaha memenuhi ekspetasi perusahaan kepadanya. Tanpa dia sadari, keinginan mewujudkan semuanya dapat membikin dirinya burn out. Apalagi jika target dari perusahaan sendiri kadang cenderung tak realistis.

Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab dari toxic productivity. Seseorang bisa betah bekerja terus-menerus karena merasa harus benar-benar sempurna. Alhasil, kehidupan pribadinya pun terancam terganggu karena terlalu sibuk bekerja.


Suasana Kompetitif di Kantor

sumber: Freepik

Selain target perusahaan, budaya kerja kantor juga dapat menjadi penyebab besar toxic productivity. Nuansa persaingan yang terlalu kentara sangat rentan membuat mental seseorang mudah jatuh. Maka, jalan satu-satunya untuk jadi yang terbaik adalah bekerja sekeras dan serajin mungkin.

Bagian sebagian karyawan yang sangat punya jiwa kompetitif, hal ini awalnya terasa menyenangkan. Namun, lama-lama perasaan frustrasi pun muncul. Terlebih jika dia merasa harus menunjukkan diri sebagai karyawan paling baik di kantor.


Cemas Tertinggal daripada Rekan Lain

sumber: Freepik

Perasaan khawatir dan merasa tidak mampu menjadi biang dari toxic productivity. Pasalnya, ada kalanya seseorang sering diremehkan oleh atasan maupun rekan kerja karena dianggap kurang mampu. Mau tidak mau, dia harus belajar ekstra keras demi mengejar ketertinggalan.

Sikap ini juga lambat laun sangat memengaruhi kesehatan mental karyawan. Alih-alih produktif, yang ada justru makin stres dan kurang fokus bekerja. Itu sebabnya perasaan cemas berlebihan dalam bekerja sebaiknya dikontrol agar tidak berdampak makin besar.


Budaya Kantor yang Tak Sehat

sumber: Freepik

Terakhir, budaya kantor tak sehat juga menjadi penyebab toxic productivity. Beberapa perusahaan sepertinya masih memegang prinsip bahwa semakin lama bekerja, maka semakin produktif. Padahal, hal ini tidaklah benar.

Produktif lebih berkolerasi dengan efisiensi waktu, bukan durasi kerja panjang. Memaksakan diri bekerja hingga larut malam tidak akan membuat seseorang produktif. Demi mendapat citra pekerja keras, tidak jarang seseorang rela lembur hampir tiap hari meski pekerjaannya tidak mendesak sekali.


Dari keempat hal di atas, mana yang jadi penyebab terbesar toxic productivity bagi karyawan? Semoga kamu tetap ingat untuk mengelola waktu agar tetap produktif dengan cara tepat.

Comments


SIGN UP AND STAY UPDATED!

Thanks for submitting!

  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by Talking Business.  Proudly created with Wix.com

bottom of page